Di Tenggara... Tekkathiyan (Tekkatthiyan) Di mana pun pergi, kisah ini menyatukan dengan indah- Setengah Tamil, Setengah Sumatra — perpaduan identitas
NEGERI FILIPINA YANG BERNADI DARAH TAMIL
Sejarah maritim orang Tamil biasa dibatasi dalam wilayah Tamil Nadu. Namun seribu tahun lalu nenek moyang kita menyeberangi Samudra Hindia, meninggalkan jejak dari Sumatra hingga Jawa, dari Sulu hingga Cebu — melalui keterampilan perdagangan, cahaya budaya, dan ikatan kemanusiaan mereka. Pada masa ketika kita menyebut kebanggaan “Tamil Global”, mengangkat kembali sejarah tersembunyi ini adalah tugas dan kehormatan kita. Klaim bahwa darah Tamil mengalir dalam garis kerajaan Cebu di Filipina bukan sekadar cerita — itu adalah bab yang terlupakan dalam kisah pelayaran panjang orang Tamil. Sejarah ini menyampaikan kebenaran kepada generasi muda kita: “Di mana pun Tamil pergi, ia membentuk dunia dengan ilmu dan kerja kerasnya.”
Film sering membangkitkan kesan mendalam pada khalayak. Begitu pula, meski sejarawan seperti K. A. Nilakanta Sastri, Ma. Ramasamani, N. M. Venkatasamy Nattar dan Dr. Kudavayil Balasubramanian telah mendokumentasikan sejarah Chola secara teliti, dibutuhkan sinema populer — seperti Ponniyin Selvan — untuk membawa keagungan Chola dan keberanian mereka yang berusia seribu tahun kepada publik luas, membangkitkan kesadaran meski mungkin ada kelonggaran sejarah.
Rajaraja Chola menjalin hubungan baik dengan kerajaan Srivijaya (Sumatra — Indonesia modern). Atas permintaan Raja Srivijaya Chudamani Varman, ia mendirikan biara Buddha Chudamani Vihara di Nagapattinam untuk para pedagang Srivijaya dan menganugerahkan sejumlah desa sebagai endowmen. Kemudian, putranya Rajendra Chola melancarkan ekspedisi ke Srivijaya (Sumatra, Kedah masa kini), menaklukkan banyak wilayah dan memantapkan otoritas Chola. Dalam tradisi pemerintahan Chola, kerabat dekat, komandan angkatan laut, pedagang dan orang-orang layak diangkat ke jabatan tinggi dengan tanggung jawab. Demikianlah hubungan Chola–Srivijaya tercatat hingga masa Kulottunga Chola.
Ketika pemerintahan Rajendra Chola III — yang dianggap sebagai raja Chola terakhir — berakhir pada 1279 M, kerajaan Chola surut oleh kekuatan Pandya. Pada titik itu timbul pertanyaan: jika Chola pernah menyebarkan kekuasaannya ke teluk seperti danau besar — sehingga orang menyebutnya “lautan Chola” — dan jika wilayah Srivijaya (Sumatra, Kedah, Kamboja, bagian Thailand) mulai pudar dari catatan sejarah, apakah para panglima, pelaut dan pedagangnya lenyap begitu saja di negeri jauh? Dalam pencarian itu, kisah-kisah di Cebu, Filipina — tentang garis keturunan kerajaan yang punya kaitan Tamil — mengejutkan: seperti pohon pinang yang berakar kuat, hubungan itu muncul di mana-mana. Mari kita berlayar dari Palembang menuju Cebu.
Adegan sejarah
Mari memasuki Srivijaya (kadang disebut Srivijayam atau Visaya) dan melihat suasananya. Pada abad ke-11, kerajaan yang pernah gemilang sebagai pusat pembelajaran Buddha dan perdagangan maritim perlahan menurun.
(Sumber: K. A. Nilakanta Sastri, The Cōḷas, 1935; George Cœdès, Indianized States of Southeast Asia, 1968.)
(Sumber: Pierre-Yves Manguin, “The Merchant and the King,” Archipel 58, 1999.)
Serikat Tamil dan diaspora pelaut
Serikat dagang India Selatan — Ayyavole-500, Manigramam, Nanadesi — membuka cabang di Sumatra, Jawa dan kepulauan Melayu. Mereka sering bekerja sama dengan penguasa lokal, menikah dengan keluarga setempat, dan menghasilkan garis keturunan campuran Tamil–Melayu. Dari perpaduan semacam ini lahirlah seorang pangeran: Raja Muda Lumaya. Dalam bahasa Indonesia/Melayu, muda berarti muda; Raja Muda adalah pangeran; nama pribadinya adalah Lumaya.
(Sumber: Himanshu Bhattacharya, Maritime Trade of South India, 2004.)
Ketika singa meraung tak lagi terdengar, bahkan hewan kecil pun kehilangan kendali. Ketika otoritas runtuh, hidup mereka yang berada di bawahnya berubah. Hal yang sama terjadi pada Srivijaya: Palembang mengalami kemunduran, para pedagang mencari pasar baru ke utara, dan biksu dikirim ke Jawa dan sekitarnya. Dalam angin perubahan ini, istana Srivijaya merancang rencana: mengirim seorang pangeran keturunan Tamil–Srivijaya yang setia untuk menjaga pengaruh di pelabuhan jauh. Raja Muda Lumaya dipilih sebagai tokoh yang paling cocok.
Ini adalah taktik politik yang digambarkan sejarawan sebagai “re-kolonisasi yang gelisah”. Raja-raja Srivijaya bermaksud mempertahankan dominasi bukan hanya melalui senjata tetapi juga melalui jaringan pedagang dan biksu. Oleh karena itu Lumaya — yang membawa darah Tamil — dipandang sangat tepat untuk memerintah dan meningkatkan perdagangan Srivijaya–Tamil di pelabuhan timur yang baru.
Menurut tradisi lisan Visayan (Aginid, Bayok sa Atong Tawarik), Pangeran Lumaya berlayar dari Sumatra bersama pedagang Tamil–Melayu, pendeta, guru agama dan pengrajin dengan armada kecil melalui koridor muson: Palembang → Borneo → Sulu → Cebu. Misinya bersifat religius sekaligus strategis: mendirikan pelabuhan timur yang aman bagi perdagangan Srivijaya–Tamil dan menyebarkan cahaya budaya mereka ke wilayah perairan baru.
Ketika Raja Muda Lumaya mendarat di Sugbo (sekarang Cebu, Filipina), ia menemukan pelabuhan alami dan tanah yang subur. Kawasan itu disebut Visayan dan bahasa lokal Bisayan/Cebuano — banyak peneliti menganggap nama tersebut berakar dari Srivijaya/Visaya. Kajian linguistik juga menunjukkan banyak kosakata dalam Bisayan yang berasal dari Sanskerta, Tamil, dan Melayu — bukti jelas hubungan India kuno.
(Rujukan: temuan arkeologi dan San Carlos Museum, Cebu — keramik Asia yang ditemukan.)
Sebagai gema kebudayaan Hindu-nya, Lumaya disebut menamai kota pelabuhan itu Singhapala — “Kota Singa.” Di bawah kendalinya, pelabuhan diatur rapi, perdagangan berkembang, dan kekayaan terkumpul. Artefak Dinasti Song Tiongkok, manik-manik India Selatan, dan daun emas Sumatra ditemukan di wilayah itu, menandakan jaringan perdagangan yang hidup.
(Laporan Arkeologi, National Museum of the Philippines 2019–2022.)
Raja Muda Lumaya memerintah Sugbo (Cebu) sedemikian rupa sehingga kehidupan rakyat tetap terjaga dan warisan Tamil–Melayu dilestarikan. Baik Cebu merupakan tanah leluhur maupun negeri yang ia pilih untuk hidup, pemerintahannya dikenang sebagai “pangeran yang membangun negeri lewat perdagangan, bukan lewat pedang.”
Setelahnya, keturunannya — Sri Alho, Sri Ukob, Sri Bantug — meneruskan pemerintahan setia pada tradisi itu. Seabad setelah Lumaya membentuk pesisir Cebu, dinastinya masih menonjol. Pada abad ke-16 awal, pemerintahan dipimpin oleh Rajah Humabon, yang dalam beberapa catatan dianggap keturunan Lumaya. Di masa pemerintahannya, dunia Barat pertama kali mencapai kepulauan Filipina.
Pada 7 April 1521, ekspedisi Spanyol di bawah Ferdinand Magellan berlabuh di Cebu. Penerjemah Magellan, Enrique dari Melaka, berbicara bahasa yang mirip Cebuano — yang secara tak terduga memudahkan kontak antara orang Eropa dan dunia Visayan. Untuk pertama kalinya, dunia Eropa dan dunia Visayan berdiri berhadapan.
(Pigafetta, First Voyage Around the World, 1524.)
Antonio Pigafetta mencatat bahwa “raja dan ratu Cebu dibaptis dengan penuh hormat.” Pada 14 April 1521, Rajah Humabon menerima nama Kristen Don Carlos, dan ratunya Hara Humamay menjadi Ratu Juana. Magellan menghadiahkan patung suci Sto. Niño kepada ratu — relik yang hingga kini dihormati di Cebu.
Sto. Niño- GIFT OF MAGELLAN TO QUEEN HARA HUMAMAY
Momen ini menandai akhir bab dinasti Hindu yang didirikan oleh keturunan Lumaya. Pengaruh Tamil–Sumatra yang pernah megah di laut kini memasuki era kolonial baru.
Sejarah Raja Muda Lumaya bukan sekadar dongeng — tetapi tertulis dalam lembar-lembar awal sejarah Filipina.



.jpg)

கருத்துகள்
கருத்துரையிடுக