Di Tenggara... Tekkathiyan (Tekkatthiyan/ Orang Selaten) 32 -Sibi Chakravarthi: Kisah Seorang Raja yang Rela Mengorbankan Daging Tubuhnya

 

Sibi Chakravarthi: Kisah Seorang Raja yang Rela Mengorbankan Daging Tubuhnya

Thamizhagam dan Jejak Budaya Jawa

Ada saat-saat tertentu dalam sastra Tamil ketika kemunculan seorang tokoh begitu kuat sehingga suasana seluruh kisah seakan-akan berubah dalam sekejap.

Salah satu momen seperti itu dapat kita temukan dalam Silappathikaram.


Di gerbang istana Kerajaan Pandya di Madurai berdiri Kannagi. Rambutnya terurai, matanya memancarkan kemarahan, dan dukanya telah berubah menjadi keberanian untuk menuntut keadilan.

Ia meminta untuk bertemu dengan sang raja.

Penjaga istana, yang bahkan tidak mampu menahan tatapan penuh amarah dari perempuan itu, segera bergegas masuk dan melaporkan kepada Raja Nedunchezhiyan bahwa seorang perempuan telah datang ke istana dan menuntut keadilan.

Sang raja, yang belum menyadari malapetaka yang sebentar lagi akan terjadi, memerintahkan agar perempuan tersebut dibawa menghadapnya.

Ketika Kannagi berdiri di hadapan sang raja, ia tidak hanya menyampaikan tuntutannya.

Ia juga mengingatkan Raja Pandya tentang tradisi agung para raja dari tanah Chola, negeri asalnya.

Sebuah negeri yang melahirkan raja-raja yang menempatkan keadilan dan belas kasih di atas kepentingan diri mereka sendiri.

Di antara mereka terdapat Sibi Chakravarthi.

Kisah Sibi merupakan salah satu kisah pengorbanan dan belas kasih yang paling kuat dalam tradisi sastra Tamil.

Kisah Sibi Chakravarthi

Seekor burung merpati yang sedang melarikan diri dari kejaran seekor burung pemangsa mencari perlindungan kepada Raja Sibi.

Sang raja melindungi burung kecil yang ketakutan itu.

Namun burung pemangsa tersebut kemudian mengajukan tuntutannya sendiri.

                      

Ia juga adalah makhluk hidup, dan merpati itu merupakan mangsanya. Jika sang raja menyelamatkan merpati tersebut, lalu bagaimana burung pemangsa itu akan memperoleh makanannya?

Raja Sibi kemudian menawarkan daging dari tubuhnya sendiri dengan berat yang sama dengan berat merpati tersebut.

Sebuah timbangan disiapkan.

Sibi memotong sebagian daging dari tubuhnya dan meletakkannya di salah satu sisi timbangan.

Namun beratnya masih belum cukup.

Ia memotong lagi.

Tetap saja, berat daging tersebut belum mampu menyamai berat seekor burung kecil itu.

Akhirnya, Sibi menawarkan seluruh tubuhnya.

Ia bersedia mengorbankan dirinya sendiri daripada membiarkan salah satu dari kedua makhluk hidup tersebut kehilangan haknya untuk hidup.

Inilah gambaran Sibi yang diwariskan oleh tradisi Tamil dari generasi ke generasi:

seorang raja yang menganggap melindungi kehidupan jauh lebih penting daripada menyelamatkan tubuhnya sendiri.

Sibi dalam Tradisi Sastra Tamil

Sibi bukanlah tokoh yang hanya disebut sekali dalam Silappathikaram.

Kisahnya merupakan bagian dari ingatan sastra Tamil yang jauh lebih luas.

Nama Sibi muncul dalam karya-karya sastra dari zaman Sangam, termasuk dalam puisi-puisi Purananuru. Karya-karya Tamil dari masa-masa berikutnya juga mempertahankan berbagai versi kisah yang sama.

Karena itu, bagi tradisi Tamil, kisah seorang raja yang merelakan daging tubuhnya sendiri demi menyelamatkan seekor merpati bukanlah kisah asing yang baru datang dari luar.

Kisah tersebut telah tertanam kuat dalam ingatan budaya Thamizhagam.

Sibi juga dikaitkan dengan tradisi kerajaan Chola kuno.

Para raja Chola dengan bangga menghubungkan garis keturunan mereka dengan Sembiyan, dan nama “Sembiyan” kemudian menjadi salah satu gelar yang terkenal dalam tradisi kerajaan Chola.

Para sarjana juga telah membahas hubungan antara Sibi yang dikenal dalam sastra Tamil dengan tokoh Sibi yang ditemukan dalam berbagai tradisi sastra India Utara.

Kemiripan kisah tersebut membuat sejumlah sarjana melihatnya sebagai berbagai bentuk dari sebuah tradisi kuno yang sama.

Apa pun hubungan sejarah yang sebenarnya, satu hal tampak jelas:

kisah Sibi telah melakukan perjalanan yang sangat jauh melintasi dunia budaya India.

Dan sekarang, marilah kita mengikuti perjalanan kisah tersebut menyeberangi lautan.

Dari Thamizhagam ke Jawa

Perjalanan kita membawa kita ke Indonesia, ke Pulau Jawa.

Di sinilah berdiri Borobudur, mahakarya Buddha Mahayana di Jawa Tengah yang dibangun pada masa Dinasti Sailendra sekitar abad ke-8 hingga ke-9.

              

Borobudur bukan sekadar sebuah bangunan suci dalam pengertian biasa.

Seluruh rancangan arsitekturnya menggambarkan sebuah perjalanan spiritual.

Secara tradisional, Borobudur dipahami melalui tiga tingkatan.

Kama-dhatu — dunia keinginan dan kehidupan duniawi.

Rupa-dhatu — dunia bentuk, tempat para pengunjung menemukan rangkaian kisah dan ajaran Buddhis yang luar biasa, dipahat dengan indah pada batu.

Arupa-dhatu — dunia tanpa bentuk, yang diwujudkan melalui teras-teras atas yang tenang, ketika relief-relief naratif yang begitu kaya perlahan menghilang dan arsitektur berubah menjadi semakin abstrak dan kontemplatif.

                                

Untuk kisah kita, tingkatan kedua, Rupa-dhatu, menjadi sangat penting.

Galeri-galeri Borobudur memiliki ratusan panel relief naratif yang menggambarkan kisah-kisah dari tradisi Buddhis, termasuk kisah-kisah Jataka—cerita tentang kehidupan-kehidupan Buddha sebelum mencapai pencerahan.

Dalam kisah-kisah tersebut, calon Buddha muncul dalam berbagai wujud.

Kadang-kadang sebagai binatang.

Kadang sebagai seorang raja.

Kadang sebagai seorang pertapa atau manusia biasa.

Namun berulang kali, kisah-kisah tersebut menonjolkan nilai-nilai seperti kasih sayang, kemurahan hati, pengorbanan diri dan perlindungan terhadap semua makhluk hidup.

Dan di sinilah kita menemukan sesuatu yang sungguh menarik.

Kisah Sibi di Borobudur

Di antara relief naratif Borobudur terdapat panel-panel yang menggambarkan kisah seorang raja yang memberikan perlindungan kepada seekor merpati yang sedang dikejar oleh seekor burung pemangsa.

Pada Panel 56, kita melihat seekor merpati yang ketakutan mencari perlindungan kepada sang raja.

   

Borobudur, First Gallery, Inner Wall, Panel 056 — King Sibi / Śibi

Photograph: Anandajoti Bhikkhu / Photo Dharma, 2013; CC BY 2.0. (High-resolution version from Wikimedia Commons.)


Pada Panel 57, kisah tersebut mencapai puncaknya yang dramatis.

Sang raja berusaha memberikan ganti kepada burung pemangsa dengan menimbang potongan daging dari tubuhnya sendiri, berusaha menyamakannya dengan berat burung merpati.

Adegan tersebut bukan sekadar sebuah simbol.

Para pemahat Borobudur menyusun tokoh-tokoh manusia, sang raja, kedua jenis burung, dan timbangan sedemikian rupa sehingga penonton dapat mengikuti jalannya cerita seolah-olah sedang menyaksikan rangkaian adegan dalam sebuah film.

Batu berubah menjadi sebuah cerita.

Dan kisah itu adalah kisah yang telah dikenal oleh masyarakat Tamil selama berabad-abad.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang menarik:

Apa hubungan antara kisah Sibi yang dikenal dalam tradisi sastra Tamil dengan kisah Sibi yang dipahat pada dinding Borobudur di Jawa?

Jawabannya tentu memerlukan kehati-hatian.

Kita tidak dapat begitu saja mengatakan bahwa para pemahat Borobudur secara langsung menyalin kisah tersebut dari sastra Tamil.

Kisah Sibi merupakan bagian dari tradisi naratif Buddhis dan India yang jauh lebih luas, dan berbagai versinya ditemukan dalam beragam tradisi sastra dan keagamaan.

Namun demikian, kesamaan tersebut tetap memiliki makna budaya yang sangat menarik.

Sebuah kisah yang telah dikenal di Thamizhagam sejak masa Sangam, berabad-abad kemudian muncul kembali—ribuan kilometer jauhnya—dalam karya seni monumental Buddhis di Jawa.

Kisah yang Menyeberangi Laut

Di sinilah kisah ini menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar membandingkan dua karya sastra.

Samudra Hindia dan Teluk Benggala tidak pernah benar-benar menjadi tembok yang memisahkan India dari Asia Tenggara.

Sebaliknya, keduanya merupakan jalan raya maritim.

Kapal-kapal membawa para pedagang, biksu, pelaut, utusan, gagasan dan cerita melintasi lautan tersebut.

Agama melakukan perjalanan.

Bahasa melakukan perjalanan.

Gagasan seni melakukan perjalanan.

Dan cerita pun melakukan perjalanan.

Ketika semua itu tiba di negeri-negeri baru, semuanya tidak sekadar disalin.

Mereka berbaur dengan kebudayaan setempat dan kemudian diekspresikan melalui tradisi seni dan pemikiran lokal.

Borobudur sendiri merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana gagasan dari dunia budaya India yang lebih luas mengalami transformasi dalam lingkungan intelektual, keagamaan dan artistik Jawa.

Karena itu, kisah Sibi yang dipahat pada batu Borobudur memberikan kepada kita satu jendela lagi untuk melihat dunia budaya yang luar biasa yang pernah menghubungkan India dan Asia Tenggara.

Di Thamizhagam, kisah Sibi diwariskan melalui sastra.

Di Jawa, kisah yang memiliki inti cerita serupa diwujudkan dalam batu.

Medianya berubah.

Bahasanya berubah.

Lingkungan keagamaannya berubah.

Namun gagasan moral yang menjadi inti kisah tersebut tetap memiliki kekuatan yang luar biasa:

Seorang penguasa harus melindungi kehidupan, bahkan jika hal itu menuntut pengorbanan atas kenyamanannya sendiri, harta miliknya, dan pada akhirnya, tubuhnya sendiri.

Karena itulah kisah Sibi layak dikenang bukan hanya sebagai sebuah legenda kuno.

Kisah ini juga merupakan bagian dari perjalanan besar arus budaya yang mengalir antara India dan Asia Tenggara.

Laut yang membentang antara Thamizhagam dan Jawa tidak hanya membawa kapal.

Laut itu membawa ingatan.

Membawa cerita.

Dan terkadang, berabad-abad kemudian, cerita-cerita tersebut masih menunggu untuk kita temukan kembali—diam, tetapi tetap hidup, terukir pada batu.


Artikel Penelitian
Kavikkirukkan Muthumani

கருத்துகள்

இந்த வலைப்பதிவில் உள்ள பிரபலமான இடுகைகள்

தென் கிழக்கில் .. தெக்கத்தியான் (தெற்கத்தியான்) 28-இந்தோனேசியாவை இன்றும் வலம் வரும் தமிழ்/ இந்திய சொற்கள்

தென் கிழக்கில் .. தெக்கத்தியான் (தெற்கத்தியான்) 31-குப்தர், பல்லவர் மற்றும் தென்கிழக்கு ஆசிய அரசியல் மாற்றம்-இந்தியப் பண்பாட்டு பரவல்

தென் கிழக்கில் .. தெக்கத்தியான் (தெற்கத்தியான்) 23-ஐநூற்றுவர்